
ButonUtara, Trimediasultra – Di tengah menguatnya perang narasi dan derasnya arus disinformasi, ratusan wartawan dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti retret kebangsaan di Akademi Militer (Akmil) Magelang.
Kegiatan ini digelar sebagai bagian dari rangkaian menyambut Hari Pers Nasional (HPN) 2026, dengan fokus penguatan peran pers dalam menjaga ketahanan nasional.
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Tenggara (Sultra), Sarjono mengatakan kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan peran strategis pers dalam menjaga ketahanan nasional di tengah dinamika ancaman non-militer.
Retret yang dikemas dalam format Orientasi Kebangsaan dan Bela Negara ini menyoroti tantangan pers di era perang informasi, mulai dari disinformasi, perang narasi, hingga polarisasi sosial dan politik yang berpotensi menggerus persatuan bangsa.
Sarjono, menegaskan bahwa pers memiliki posisi vital sebagai garda terdepan pertahanan non-militer negara. Menurutnya, kedaulatan bangsa saat ini tidak hanya diuji di medan tempur, tetapi juga di ruang informasi dan opini publik.
“Pers bukan sekadar penyampai berita, tetapi penentu arah nalar publik. Ketika informasi dikelola secara profesional, pers menjadi pilar utama ketahanan ideologi, politik, sosial, dan budaya bangsa,” tegasnya.
Retret wartawan di lingkungan Akmil Magelang ini juga bertujuan menanamkan nilai-nilai kebangsaan, disiplin, serta pemahaman strategis tentang bela negara dalam konteks jurnalistik modern,” ungkapnya Sabtu, 17 Januari 2026.
Kata dia, para peserta mendapatkan pembekalan mengenai etika pemberitaan, tanggung jawab sosial pers, serta peran media dalam menjaga stabilitas nasional tanpa mengorbankan independensi. Sejumlah narasumber dari unsur pertahanan, akademisi, dan praktisi media nasional turut mengupas fenomena perang narasi global yang menjadikan media sebagai medan kontestasi kepentingan.
Sarjono, menyebutkan bahwa retret ini menjadi bagian penting dari rangkaian menuju HPN 2026, sekaligus momentum konsolidasi insan pers agar semakin profesional, berintegritas, dan berwawasan kebangsaan.
“HPN bukan sekadar perayaan, tetapi refleksi. Retret ini diharapkan melahirkan insan pers yang tidak hanya kritis, tetapi juga bertanggung jawab dalam menjaga persatuan dan kedaulatan bangsa,” ujarnya.
Retret Wartawan di Akmil Magelang diharapkan menjadi tonggak penguatan sinergi antara pers dan negara dalam menghadapi tantangan era digital, tanpa mengurangi peran pers sebagai pilar demokrasi yang independen dan beretika,” pungkasnya.(Adm/M2).



