
Kendari, Trimediasultra.com – Aliansi Mahasiswa se-Buton Utara (Butur) menggelar aksi cipta kondisi (cipkon) di kawasan Perempatan Pasar Baru, Kota Kendari, Selasa malam (30/6/2026). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap sejumlah persoalan yang terjadi di Kabupaten Buton Utara.
Massa aksi turun ke jalan menyampaikan aspirasi dan tuntutan yang ditujukan kepada pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi. Kegiatan yang berlangsung sejak sore hingga malam hari itu berjalan aman, tertib, dan kondusif.
Dalam aksi tersebut, Aliansi Mahasiswa se-Butur membawa sejumlah isu strategis, di antaranya terkait polemik pembangunan Asrama Butur, pengelolaan fasilitas pelabuhan, kondisi infrastruktur jalan, hingga persoalan pelayanan publik.
Jenderal lapangan massa aksi, Nirfal menyampaikan beberapa tuntutan, yakni meminta Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Provinsi Sulawesi Tenggara melakukan pemeriksaan terhadap legalitas akta hibah Asrama Butur.
Selain itu, mahasiswa juga mendesak DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara melakukan audit terhadap pihak-pihak terkait dalam polemik pembangunan asrama tersebut.
Mahasiswa juga mendesak Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Tenggara melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap Dinas Perhubungan Kabupaten Buton Utara, khususnya dalam pengelolaan fasilitas pelabuhan dan penggunaan anggaran agar sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Selain itu, Aliansi Mahasiswa se-Butur meminta DPRD Sulawesi Tenggara menjalankan fungsi pengawasan dan penganggaran untuk mendorong Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) segera melakukan perbaikan terhadap sejumlah ruas jalan provinsi yang mengalami kerusakan di wilayah Kabupaten Buton Utara.
Tuntutan lainnya berkaitan dengan transparansi pengelolaan beasiswa daerah, penanganan persoalan pemadaman listrik di wilayah pelosok, serta percepatan pembangunan menara telekomunikasi (BTS) di wilayah yang masih mengalami keterbatasan akses jaringan.
Adi Adrianto menambahkan aksi tersebut bukan sekadar untuk menunjukkan eksistensi kelompok, melainkan sebagai bentuk refleksi terhadap sejarah perjuangan masyarakat Buton Utara dalam memperjuangkan pembentukan daerah otonomi baru (DOB).
“Kami yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa se-Butur turun melakukan cipta kondisi hari ini bukan untuk menaikkan eksistensi kelompok, melainkan sebagai bentuk penghargaan dan refleksi atas perjuangan para pendahulu dalam memperjuangkan pemekaran Kabupaten Buton Utara,” ujarnya.
Ia menegaskan, mahasiswa akan terus mengawal berbagai persoalan daerah agar mendapatkan perhatian serius dari pemerintah.
Aksi tersebut berakhir dengan tertib tanpa adanya tindakan yang mengganggu ketertiban umum. Massa juga memastikan tidak melakukan aksi pembakaran ban selama kegiatan berlangsung.
Aliansi Mahasiswa se-Butur menyatakan akan kembali menggelar aksi lanjutan pada 2 Juli 2026 sebagai bentuk konsistensi dalam mengawal aspirasi masyarakat dan berbagai persoalan pembangunan di Kabupaten Buton Utara.(Adm/M1/Ad).



