Buton Utara, TrimediaSultra.com – Tradisi Haroano Ta’u kembali dilaksanakan masyarakat Desa Wasalabose, Kabupaten Buton Utara (Butur), Kamis (8/10/2026). Di balik ritual adat yang sarat nilai spiritual tersebut, muncul kembali persoalan mengenai legitimasi kepemimpinan adat Lakino Kulisusu.
Lakino Kulisusu La Ode Muhammad Ahlul Musafi mengatakan, Haroa’no Ta’u merupakan ritual adat yang dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk ikhtiar masyarakat Barata Kulisusu memanjatkan doa kepada Allah SWT agar terhindar dari bala dan bencana dari empat penjuru mata angin.
Menurut Ahlul, melalui ritual tersebut Mansuana memohon perlindungan Allah SWT agar masyarakat diberikan kelancaran rezeki, kesehatan, umur panjang, serta keberhasilan dalam menjalankan usaha.
“Mansuana meminta perlindungan kepada Allah SWT agar masyarakat dilancarkan rezeki, sehat dan umur panjang, semua usaha-usaha masyarakat bisa berhasil. Itulah tujuan dari pelaksanaan Haroano Ta’u,” kata Ahlul saat ditemui usai kegiatan Haroano Tau di halaman Masjid Keraton Kulisusu, Kamis (8/10/2026).
Ia menjelaskan, Haroa’no Ta’u pada masa lalu juga menjadi ruang bagi masyarakat Barata Kulisusu untuk membawa hasil usaha mereka, baik hasil laut maupun pertanian, untuk didoakan oleh Mansuana.
“Pada zaman dulu masyarakat Barata Kulisusu, setiap usaha disumbangkan dan dibawa ke tempat ini. Kalau ada hasil laut ataupun hasil pertanian dibawa ke tempat ini untuk didoakan Mansuana agar lebih meningkat lagi di tahun depan,” jelasnya.
Ahlul mengatakan, pelaksanaan Haroa’no Ta’u pada masa lalu ditentukan oleh Mansuana. Dalam struktur adat Kulisusu, Mansuana disebut sebagai perangkat adat yang berkaitan dengan Lakino Kadoloma.
Menurutnya, Lakino Kadoloma memiliki tanggung jawab menjalankan tugas Lakino Kulisusu apabila Lakino Kulisusu tidak berada di tempat.
“Kalau tidak ada Lakino Kulisusu, Lakino Kadolomalah yang bertanggung jawab secara kebatinan,” ujarnya.
Ahlul mengatakan dirinya tetap menjalankan tradisi tersebut karena menganggapnya sebagai bagian dari tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan warisan leluhur.

“Kalau Mansuana katakan hari ini kita laksanakan Haroano Ta’u, maka wajib dilaksanakan. Sekarang yang menyelenggarakan desa karena sekarang sudah ada desa, yaitu Desa Wasalabose,” katanya.
Ia juga menjelaskan keberadaan Raha Bulelenga, yang menurutnya merupakan tempat Mansuana menenangkan diri dan bertafakur kepada Allah SWT.
Dalam menjalankan tugasnya, Mansuana dibantu Rakano Mansuana yang berjumlah empat orang. Ahlul menyebut jabatan tersebut secara adat harus diemban oleh keturunan langsung.
“Jabatan-jabatan tersebut tidak bisa dijabat yang bukan keturunannya,” tegasnya.
Pembicaraan mengenai Haroa’no Ta’u kemudian bersinggungan dengan persoalan yang lebih besar, yakni dualisme Lakino Kulisusu.
Ahlul mengklaim dirinya tidak pernah dimakzulkan atau diberhentikan dari posisi Lakino Kulisusu hingga saat ini.
Ia mengatakan, beberapa tahun terakhir terdapat pihak yang membentuk kelembagaan adat baru. Namun, Ahlul mengaku tidak mempersoalkan langkah tersebut karena meyakini dirinya memiliki dasar legitimasi sebagai Lakino Kulisusu.
“Saya tidak pernah dimakzulkan sampai saat ini. Beberapa tahun terakhir ada yang membentuk kelembagaan adat. Namun saya tidak menggubris hal tersebut karena saya memiliki legalitas yang sah, baik secara garis keturunan maupun dari sisi hukum notaris,” ungkapnya.
Ahlul juga mengklaim dirinya merupakan keturunan langsung Lakino Kulisusu dan memiliki akta notaris yang menurutnya menjadi bagian dari dasar legalitas tersebut.
“Saya keturunan langsung, ada juga akta notaris saya. Tapi saya biarkan mereka membentuk. Saya hanya punya niat, kalau memang itu keturunannya maka itu akan langgeng,” katanya.
Menurut Ahlul, persoalan kemudian berkembang setelah La Ode Assarir Mbai, yang sebelumnya menjabat sebagai Lakino Kulisusu, mengundurkan diri.
Ia mengaku setelah pengunduran diri tersebut, pihak Bhonto datang kepadanya dan meminta dirinya kembali menjalankan posisi Lakino Kulisusu.
“Tidak lama kemudian Assarir mengundurkan diri sebagai Lakino Kulisusu. Maka Bhonto datang sama saya meminta untuk mengemban kembali Lakino Kulisusu,” ujarnya.
Namun, kata Ahlul, dalam perkembangannya muncul pihak lain yang juga diangkat sebagai Lakino Kulisusu.
“Namun saat ini ada Lakino Kulisusu yang diangkat selain saya. Itulah saat ini terjadi dualisme Lakino Kulisusu,” pungkasnya.(Adm/M2).




